Sabtu, 16 Mei 2009

HELLBOY



Dalam sebuah diskusi singkat yang membahas tentang sequel film film
superhero, terdengar selentingan yang mengatakan bahwa bagian pertama dari sebuah film superhero biasanya bermutu cukup lumayan, bagian terbaik adalah di film kedua dan bagian ketiga (biasanya merupakan yang terakhir) adalah yang terburuk. Kalau mau melihat contohnya tengok saja trilogy X-Men, Spiderman, Superman ataupun Batman (episode ke-empat Batman, “Batman & Robin malah adalah yang paling buruk dari semua film superhero yang pernah dibuat, untunglah “Batman Begins” dan “The Dark Knight” berhasil memperbaiki keadaan). Bagaimana dengan Hellboy? Film superhero yang didasari oleh komik yang sebenarnya tak sebegitu populer dari Dark Horse Comic ini, walaupun di bagian pertamanya, sutradara Del Toro sudah mulai menyajikan kemasan visual yang cukup sensasional, namun dari segi cerita, pengkarakteran ataupun plotnya sendiri masih terdapat banyak kekurangan, sehingga hasilnya bisa dibilang cukup lumayan saja dengan hasil peredaran yang juga ok ok saja waktu itu. Namun bersiaplah untuk menikmati sesuatu yang lebih hebat dari Hellboy episode kedua ini, menawarkan jalinan cerita yang lebih dahsyat, visualisasi yang lebih memukau yang diwarnai pertarungan pertarungan yang menakjubkan antara sang superhero merah dengan makhluk makhluk khayal yang didesain lebih hebat dari film terdahulu. Yang sedikit mengecewakan mungkin hasil peredarannya di Amrik sana yang tidak begitu sesuai harapan, mungkin penyebabnya adalah kesalahan penentuan jadwal edarnya yang terjepit antara dua film sukses, “Hancock” dan “The Dark Knight”.

Sutradara Hellboy, Guillermo del Toro tampaknya adalah salah satu pencinta berat tokoh komik berwarna merah membara ini. Usahanya tak pernah berhenti untuk mewujudkan impiannya menciptakan lanjutan film Hellboy ini, walaupun hasil film pertamanya agak kurang memenuhi harapan dan menuai kritik yang beragam. Del Toro tak pernah patah semangat untuk terus memperjuangkan superhero kesayangannya ini. Nasib baik tampaknya memang berpihak kepadanya, sejak namanya kian bersinar lewat “Pan’s Labyrinth” yang banyak meraup review positif dan penghargaan dari berbagai festival film. Studio Universal berkenan untuk mendanai kelanjutan nasib film ini, setelah studio yang mendanai Hellboy pertama, Revolutionary Pictures ditutup. Del Toro tentu sangat bersemangat dengan lampu hijau yang telah diberikan ini dan juga dana yang lebih besar dibandingkan projek pertamanya dulu, dengan tak kenal lelah dia berusaha memperbaiki segala kekurangan dari film pertama yang tentunya bakal membawa hasil yang lebih baik lagi di film kedua ini.
Plot yang ditawarkan oleh “Hellboy II: The Golden Army” ini juga lebih tajam dan sarat humor, hampir sebagian besar alur cerita akan diisi dengan adegan dan dialog yang bisa bikin kita tertawa, dimana hal ini sangat bagus karena Hellboy II malah akan keliatan aneh kalau dibawa terlalu serius. Yang lebih penting lagi, filmnya akan diisi pula dengan adegan adegan action terbaik yang mungkin adalah salah satu terbaik dari semua film adaptasi komik yang pernah dibuat, alias ga bakal kalah deh kalo diadu sama “Iron Man” dan “The Dark Knight” apalagi “The Incredible Hulk” atau “Hancock”.

Relasi antara karakternya juga akan semakin berkembang disini, Hellboy (Ron Perlman) dan Liz (Selma Blair) diceritakan telah hidup bersama, tapi ada sesuatu yang sedang menjanggal dalam hubungan mereka. Masih seperti yang dulu, mereka juga tetap menjalani hari hari mereka untuk memberantas makhluk makhluk supernatural bersama teman mereka, sang manusia ikan Abe (Doug Jones). Satu hari seorang peri bersenjatakan pedang menyerang gedung pelelangan, Hellboy pun datang untuk menyelesaikan masalah ini. Namun, BPRD organisasi dimana Hellboy bekerja menemukan fakta bahwa peri yang bernama Nuada ini sebenarnya adalah seorang pangeran dari para makhluknya yang telah muak melihat manusia berkuasa atas bumi dan berusaha untuk mengembalikan dominasi para makhluk mistik di bumi ini. Rencana Nuada adalah mengumpulkan tiga potongan mahkota yang mampu memberinya kekuatan untuk membangkitkan pasukan emas, yaitu sekumpulan prajurit robot tak terkalahkan yang dirakit oleh para goblin. Sementara, para penguasa di pemerintahan merasa agak resah dengan popularitas Hellboy yang semakin tinggi dan menunjuk Johann Krauss untuk memegang kendali di BPRD dan juga atas maksud untuk mengendalikan Hellboy. Johann aslinya adalah sebuah makhluk ektoplasma yang harus menggunakan baju khusus yang bisa mencegah tubuhnya buyar dan hilang (makhluk yang aneh….??). Hellboy asli ga bisa bekerja sama dengan makhluk aneh ini tapi mau tidak mau tuntutan tugas harus memaksa mereka bekerja bersama untuk menghentikan rencana sinting si Nuada. Mereka harus menghalang Nuada mendapatkan potongan terakhir mahkota yang ternyata dipegang oleh saudara kembar Nuada sendiri yaitu Putri Nuala. Sang putri sama sekali ga setuju dengan niat busuk Nuada dan tetap ingin menjaga keseimbangan antara dua dunia berbeda ini. Dengan segala upaya Hellboy dan team-nya harus melindungi Nuala yang diceritakan bakal punya kisah romantis dengan Abe, dan juga melawan Nuada beserta pasukan monster, peri, dan makhluk makhluk mistik jahat lainnya.

Setelah membaca sinopsisnya ini, maka kita pasti punya pikiran kalo cerita Hellboy II ini sungguh benar-benar adalah sebuah fantasi sejati dengan segala makhluk khayal yang semakin banyak mengisinya. Tapi dengan balutan efek khusus luar biasa, sajian aksi yang spektakuler juga visual yang mengagumkan dari seorang Guilermo del Toro, si raja imajinasi, segalanya tampak layak untuk disaksikan dan bisa menjadi hiburan segar yang sangat berkualitas tinggi. (JC)

Jumat, 15 Mei 2009

HULK


Tentunya anda masih mengingat film Hulk yang di rilis 2003, 5 tahun silam. Bisa dikatakan The Incredible Hulk adalah sekuel dari film Hulk sebelumnya. Sedikit cerita Hulk sebelumnya, pada pertarungan terakhir Hulk (Bruce Banner) melawan David (ayah dari Bruce Banner), Banner di temukan menjadi seorang dokter di daerah amazon. Tentunya dia meninggalkan kekasihnya Betty Ross.

The Incredible Hulk, di maksudkan untuk mengembalikan jalan cerita (reboot) Hulk seperti komik dan film seri-nya, yang berjudul sama. Cerita berawal di Brazil, Bruce Banner bekerja sebagai seorang buruh di sebuah perusahaan minuman ringan, di kota ini juga dia belajar dengan seorang guru Taichi untuk mengatur emosi Banner. Banner juga mengenakan jam, untuk menghidung detak jantungnya, jika sampai 200, berubahlah jadi monster hijau nan ganas “Hulk”. Karena sebuah kesalahan, darahnya masuk dalam botol minuman ringan, sehingga keberadaannya di Brazil pun diketahui.

Mengetahui situasi ini, General Thaddeus “Thunderbolt” Ross, yang notabene juga ayah dari Betty Ross, menyewa seorang pemburu profesional, Emil Blonsky. Salah satu pesan yang harus di ingatkan Blonsky adalah “jangan biarkan dia menjadi petarung”. Banner yang masih berusaha mencari obat untuk menyembuhkan dirinya lewat bantuan Mr.Blue, menyadari hal ini. Pengejaran pun tak terelakkan, Banner harus selalu beristirahat di sela-sela pengejaran untuk mencegah detak jantungnya menjadi 200 “lah kok koyo game”. Hingga akhirnya dia terpojok di pabrik minuman, tempatnya bekerja, jam menunjukkan 200, dan dia pun berubah menjadi mahluk hijau yang ganas. Blonsky adalah satu-satunya saksi hidup dalam operasi tersebut. General Thaddeus “Thunderbolt” Ross akhirnya buka mulut bahwa monster hijau yang dia temui adalah Banner. Blonsky pun bersedia menjadi bahan percobaan serum yang di buat oleh militer AS untuk membuat super soldier. Awalnya percobaan ini gagal, karena badan Blonsky remuk, di remek oleh Hulk, saat bertarung di Culver University Amerika. Tujuan Banner ke Culver University, tidak lain adalah untuk bertemu kekasihnya Betty. Abomination, campuran darah Hulk dan Serum militer AS

Dari hasil akhir pertarungan tersebut General Thaddeus “Thunderbolt” Ross meneruskan percobaan fase 3 untuk Blonsky, yang ternyata sembuh dari koma. Dari percobaan ketiga inilah, emosi Blonsky mulai labil, dia bertindak sendiri saat berada di universitas tempat Mr. Blue (Dr. Samuel Sterns) berada. Dr. Samuel Sterns melakukan percobaan pada Banner untuk mencari obat yang dapat menghilangkan mutasi atau minimal menekan perkembangan Hulk di dalam diri Banner. Untuk melakukan tes tersebut, darah Banner di perbanyak olehnya. Walaupun percobaan ini hampir berhasil membuat bentuk normal Banner menjadi Hulk dan normal kembali, namun dokter ini terlihat begitu terobsesi, sehingga dia pun membantu Blonsky (karena terpaksa), dengan menginjeksikan darah Banner pada tubuh Blonsky, campuran serum fase 3 dan darah Banner merubah Blonsky menjadi Abomination. Dr. Samuel Sterns sendiri juga terkena darah Banner di bagian kepala, sehingga tulang kepala-nya membesar.

Pertarungan pun tidak terelakkan antara Hulk dan Abomination. Banner yang telah ditangkap, terjun dari helikopter dan berubah menjadi Hulk saat jatuh ke jalan. Disinilah pertarungan seru terjadi, Hulk memanfaatkan mobil polisi yang dibelah menjadi dua, untuk dijadikan sarung tinju. Pertarungan pun tidak hanya sampai disitu, Abomination mengejar helikopter yang dikendarai General Thaddeus “Thunderbolt” Ross, yang pada saat terjadi pertarungan malah membela Hulk. Pertarungan terjadi saat Abomination dan Hulk bergelantungan di helikopter, sampai helikopter tersebut terjatuh.

Abomination mencengkram Hulk hingga terpojok, dan dada-nya terluka, bahkan mengambil rantai barbel raksasa, yang ada di reruntuhan bangunan tempat helikopter terjatuh. Pertarungan berakhir saat Hulk mengeluarkan jurus-nya “Hulk Smash”.. (iya seperti di game dan komik, Hulk berteriak “Hulk Smash”), saat inilah rantai barbel tersebut terlepas dan di ambil alih Hulk untuk mengikat leher Abomination sampai lemas. Namun Abomination dibiarkan hidup, karena Beety berteriak kepada Hulk untuk menghentikan aksi brutalnya. Tidak beberapa kemudian helikopter bantuan datang dan mengejar Hulk dan sekali lagi lari dan menghilang.

Akhir dari cerita ini, Hulk terlihat sedang melatih emosinya. Kemudian Tony “Iron Man” Stark muncul saat General Thaddeus “Thunderbolt” Ross mabuk, dan berkata “Kami sudah siap”.

Berbeda dengan Hulk arahan Ang lee, The Incredible Hulk arahan Louis Leterrier, jauh lebih greget, action dan sangar.. jauh dari kesan drama.

HEROES


Kabarnya, Heroes adalah serial dengan rating tertinggi untuk serial TV di AS sepanjang 2007. Melihat potongan-potongan iklannya di Starworld plus gembar-gembor dari kuping kanan dan kiri, sebagai pelahap serial ya jelas aku tertarik, dong. Tapi, tentu saja aku lebih memilih buat nonton DVD-nya saja. Kenapa? Yah, karena males banget kalau mesti nunggu seminggu-seminggu gitu lah. Time is money, baby ….

Oke, back to business. Heroes mengisahkan tentang sekelompok orang biasa yang tiba-tiba punya kekuatan super. Kejadiannya bermula dari sebuah peristiwa gerhana matahari. Berdekatan dengan fenomena alam itu, para tokoh kita menyadari ada yang berbeda dengan diri mereka. Di Manhattan ada Peter Petrelli, seorang perawat yang yakin banget kalau dirinya bisa terbang; Nathan Petrelli, abang Peter yang juga calon senator dan ternyata beneran bisa terbang; juga Isaac Mendez, seorang pelukis yang bisa menggambarkan kejadian masa depan dalam komik-komiknya. Di Las Vegas, ada Niki Sanders, seorang Internet stripper yang ternyata punya alter ego yang kuat banget. Di sebuah kota kecil di Texas ada Claire Bennet, cewek ABG yang bisa melakukan regenerasi (mirip-mirip Wolverine gitu, deh). Di Tokyo ada Hiro Nakamura, seorang geek penggemar komik yang bisa memanipulasi waktu. Di India ada Mohinder Suresh, yang nggak punya superpower, tapi dia ini anak profesor yang meneliti kelainan genetis yang menyebabkan kondisi super itu. Itu cuma sebagian lho ya, masih banyak tokoh super yang lain dalam serial ini.

Dari episode pertama, waktu Hiro berhasil untuk pertama kalinya memanipulasi waktu dan terlempar ke Manhattan, kita langsung tahu tuh kalau bakal ada bom yang menghancurkan sebagian besar New York. Maka, inilah yang menjadi misi utama. Menghentikan bom besar itu meledak. Hiro-lah yang kemudian melakukan perjalanan melompat-lompati waktu untuk memberikan peringatan kepada para hero lainnya. Intinya, ya supaya bom itu nggak meledak dan membunuh berjuta-juta penduduk New York. Nah, manuver Hiro inilah yang akan menjadi benang merah penyambung tokoh-tokoh itu.

Lalu, tiba-tiba muncullah seorang tokoh misterius bernama Sylar. Duh, siapa pula orang satu ini? Well, he's the supervillain, guys! Superpower yang dia punya adalah menyedot kekuatan hero lain. Tapi, untuk melakukannya, dia mesti membelah kepala si korban. Makanya, menyeramkan! Nah, apa hubungan dia dengan bom besar? Ada … dan nantinya yang paling terlibat dalam hal ini adalah Peter Petrelli. Lalu, apakah bom yang dibicarakan dari awal itu bom beneran? Teroris? Atau apa? Hahaha, bingung ga sih? Nonton sana gih!

Rabu, 13 Mei 2009

CHARLIE`S ANGELS

Kesuksesan serial Charlie`s Angels pada era `70 an menggelitik naluri McG untuk kembali mengemasnya ke dalam layar lebar. Alex, Dylan dan Natalie adalah tiga wanita muda, cantik, seksi sekaligus jago bela diri. Trio ini `bekerja' pada seorang pria misterius bernama Charlie, nggak heran kemudian mereka dijuluki Charlie`s Angels. Berasal dari latar belakang yang berbeda membuat mereka makin melengkapi satu sama lainnya, terutama dalam keaadan genting. Dylan ,bad girl ini sangat cerdik dalam urusan mengecoh lawannya. Natalie yang piawai melarikan mobil dalam kecepatan tinggipun ini ternyata juga memiliki keahlian senam. Alex jenius dalam urusan tehnik mesin maupun komputer (tapi sangat buruk untuk urusan memasak). Dalam tugasnya Charlie`s Angels dibantu oleh Bosley, walau sebenarnya tak seratus persen, karena sebaliknya Charlie`s Angels-lah yang sering membantunya. Fokus cerita bermula saat Charlie menugaskan para bidadarinya untuk menyelamatkan Eric Knox,seorang ilmuwan muda yang diculik. Melalui banyak tahapan untuk menemukan tempat ditahannya Knox. Charlie`s Angels harus banyak melakukan trik mulai dari menyamar sebagai geisha, pelayan hingga penari perut. Belum lagi mendeteksi lensa mata, mengkloning sidik jari untuk dapat masuk ke dalam sistem yang sangat canggih keamanannya.<>

ZHATURA

Zathura adalah judul sebuah film yang menceritakan tentang petualangan dua bocah kecil yang terperangkap dalam sebuah permainan bernama Zathura. Permainan ini membawa mereka harus terbang ke luar angkasa dan menghadapi berbagai makhluk-makhluk aneh. Jika mereka ingin kembali ke bumi dengan selamat, mereka harus terus bermain dan menang. Zathura memang sebuah film yang cukup unik, tapi kali ini aku tidak akan membahas tentang film tersebut, melainkan pesan moral yang terkandung dalam film tersebut.

Ketika suatu malam aku sampai dirumah, kulihat adikku sedang duduk menonton tv yang sedang menayangkan film Zathura. Saat masuk rumah aku langsung duduk disampingnya untuk ikut menonton film tersebut. Begitu menyadari aku ada disampingnya adikku langsung saja berkata ‘ini ceritanya kya gue sama lo banget’.

‘Hah’. Aku kaget dan tak mengerti karena aku tidak tau jalan cerita film itu. Selanjutnya aku bertanya maksud dari pertanyaannya. Rasa sedih dan menyesal langsung menyelimutiku saat adikku mulai menceritakan film itu dari awal, dan secara singkat akan kuceritakan.

Sejak kecil aku selalu dapat perhatian lebih dari keluargaku. Kakakku ternyata begitu senang saat aku terlahir di dunia. Dia sayang sekali padaku seperti layaknya orang tuaku. Dia lakukan banyak hal untuk menyenangkanku termasuk memarahi orang-orang yang mencoba untuk menciumku. Dengan kasih sayang mereka yang begitu berlimpah aku sangat tidak ingin kehilangan sedikitpundari rasa itu, mungkin itu pula yang menyebabkan sampai sekarang aku kurang suka dengan yang namanya anak kecil. Aku selalu tak suka dengan apapun yang merebut perhatian keluargaku. Dan sejak kecil pula aku tidak mengenal yang namanya saingan. Keluargaku begitu menomorsatukan aku, begitu menuruti semua keinginanku.dan begitu memanjakan aku.

Hingga suatu hari adikku lahir. Awalnya kupikir akan sangat menyenangkan karena aku punya mainan baru. Tapi ternyata aku salah. Adikku bukan mainan dan dia butuh kasih sayang dan perhatian dari orang tuaku. Hari demi hari dia semakin cengeng, semakin butuh perhatian. Dia mengambil semuanya. Dia mengambil tahtaku sebagai anak bungsu, dia mengambil sayang dan cinta mereka. Dia begitu menyebalkan. Dia saianganku.

Tumbuh semakin besar dia semakin menyebalkan. Aku sering memarahinya karena dia nggak bisa apa-apa dan aku harus menolongnya. Dia belum bisa apa-apa dan aku harus mengajarinya. Dia belum bisa apa-apa dan aku harus menjaganya. Karena ketidaktahuannya, karena ketidakbisaannya, dank arena dia adikku aku jadi sering memarahinya. Dia sering menangis. Aku jahat. Dia kupaksa diam agar tak ada orang yang dengar. Dia kupaksa diam agar aku tak dimarahi. Dan aku pernah berharap dia tak terlahir di dunia ini. Seperti apa yang sempat dipikirkan oleh Walter dalam film Zathura. Walter sempat berpikir andai saja adiknya Danny tidak lahir ke dunia ini.

Tuhan, kalau saja waktu bisa diputar kembali aku berjanji akan lebih baik. Aku sungguh menyesal. Aku sadar bahwa aku telah menyakiti gadis kecil yang tak berdosa. Gadis kecil yang sungguh kusayang sekarang. Gadis kecil yang sekarang selalu kubela. Gadis kecil yang adikku satu-satunya. Gadis kecil yang sekarang sudah remaja. Gadis kecil yang suka pinjam barang-barangku. Gadis kecil bernama Anisa.

‘Walau bagaimanapun aku tetap kakakmu dan aku akan berusaha untuk melindungimu’

EPIC MOVIE





blimbing – Bagaimana kalau Superman tiba-tiba tidak bisa terbang? Lucy, tokoh dalam Narnia adalah seorang yang pintar tiba-tiba menjadi bodoh? Atau seorang mutan ternyata hanya mampu mengeluarkan sayap ayam kecil di punggungnya?
Para jagoan yang ternyata hanya mencoba berparodi itu dapat ditemukan di sebuah film garapan Jason Friedberg dan Aaron Seltzer (yang juga selaku penulis naskah dan produser eksekutif) berjudul Epic Movie. Friedberg dan Seltzer adalah dua dari enam penulis naskah Scary Movie. Mereka juga membuat Date Movie, parodi film-film romantis. Jejak kedua film itu masih sangat terasa di sini. Formula yang ditampilkan di Scary Movie atau Date Movie kembali muncul di film ini. Banyak adegan yang seharusnya mengagumkan menjadi garing, eksploitasi seksual yang dibuat menjadi kocak, adegan serius yang dibuat bergaya kartun, atau para tokoh hebat yang tiba-tiba menjadi seorang pecundang.
Friedberg dan Seltzer memperkuat jati diri bahwa mereka adalah para penggarap film-film parodi. Ketika menggarap Date Movie, dua sutradara yang bersahabat sejak di bangku kuliah ini tertarik membuat film sejenis lainnya dengan produser yang sama.
“Kami sangat gembira membuat film itu, kami tidak ingin berhenti, jadi kami datang kembali dengan film lainnya,” kata Paul Sciff, produser film ini yang juga memproduseri Date Movie.
Jatuh cinta pada proses kerjanya, mereka pun menggunakan banyak pemain Date Movie, di antaranya Jennifer Coolidge, Adam Campbell, Tony Cox, dan Fred Willard.

“Garing”
Penonton akan diperkenalkan pada empat anak yatim piatu yang akan menjadi tokoh utama di film ini. Sebuah adegan di Museum Louvre Prancis dibuka oleh Lucy (Jayma Mays), putri seorang kurator yang tidak sukses. Adegan itu mengingatkan penonton pada salah satu adegan di The Da Vinci Code, ketika Sophie Neveu menemukan kakeknya, Jacques Sauniere, terbunuh di hadapan salah satu lukisan Leonardo Da Vinci di museum yang sama. Bukannya petunjuk yang didapatkan Lucy, malah sebuah tiket emas untuk sebuah petualangan kepahlawanan.
Anak yatim kedua adalah Edward (Kal Penn) yang meninggalkan rumah anak yatimnya setelah salah seorang pengawas memberinya makanan kucing mati. Ini diambil dari adegan film Nacho Libre yang sebenarnya bisa dikategorikan film kepahlawanan pula. Ada pula Peter (Adam Campbell), seorang siswa di Akademi Mutant yang hanya mampu mengeluarkan sayap ayam di punggungnya. Di adegan ini, dimunculkan pula tokoh-tokoh terkenal di film X-Men, seperti Wolverine, Mystique, Rogue, Storm, Cyclops, dan Magneto yang tampil kocak dengan sebuah magnet besar di kepalanya.
Anak yatim terakhir, Susan (Faune A Chambers), diperkenalkan melalui sebuah adegan Snakes on A Plane. Dengan sebuah tiket emas seperti yang diperoleh Lucy, mereka bertemu di pabrik cokelat Willy Wonka, cerita yang diambil dari Charlie and The Chocolate Factory. Willy Wonka tentu saja tidak diperankan Johnny Depp, ada Crispin Glover yang didandani lebih menyerupai Michael Jackson ketimbang sang tokoh Wonka di film aslinya.
Dari adegan ini, penonton diajak menertawakan para tokoh di The Chronicles of Narnia: The Lion, the Witch, and the Wardrobe. Di film ini, nama negeri Narnia diubah menjadi Gnarnia demi menghormati hak paten nama-nama di film ini. Dan film itulah yang menjadi benang merah seluruh film ini.
Friedman dan Seltzer mencoba melucu ketika Lucy yang menemukan sebuah lemari pakaian membukanya dengan sangat hati-hati, dan tiba-tiba segudang barang rongsokan menimpanya. Percobaan membuat parodi yang akhirnya terkesan garing ini muncul pula pada banyak adegan lainnya, bisa jadi ke-garing-an ini muncul karena formula yang sudah terlalu dikenal penonton seperti di Scary Movie dan Date Movie.
Mereka juga membuat parodi dari nama-nama tokohnya. The White Witch, sang ratu jahat penguasa Narnia diganti menjadi The White Bitch (Jennifer Coolidge), Aslan yang menjadi Aslo (Fred Willard), atau Captain Jack Sparrow menjadi Jack Swallows (Darrell Hammond).
Bintang Saturday Night Live (SNL) memarodikan tokoh yang dimainkan Johnny Depp itu dengan baik. Dia membuat kebiasaan Jack Sparrow menjadi sesuatu yang kocak, seperti tangannya yang selalu bergerak ketika berbicara atau gaya keperempuan-keperempuanannya yang dibuat berlebihan. Sayang, ia hanya diberi sedikit porsi. Seperti kebanyakan tokoh lainnya, ia muncul hanya sebagai penghias di adegan Gnarnia.
Selain Jack Swallows, dimunculkan pula tokoh Superman yang dikisahkan terjatuh karena tidak bisa terbang, Borat dari film Borat. Sedikit adegan Kumar (yang juga dimainkan oleh Kal Penn) di Harold and Kumar Go to White Castle, serta sedikit percakapan dari American Pie 3: The Wedding, “Whoa…Stifler’s mom,” yang dilontarkan Edward ketika melihat Jennifer Coolidge (yang memang berperan sebagai ibu Stifler di film itu) menjadi The White Bitch.n

Senin, 11 Mei 2009

THE POLAR EXPREZ



BLIMBING – Natal sudah dekat. Hollywood mulai merayakannya dengan film bernuansa Natal yang kental. Robert Zemeckis dan Tom Hanks pun tak ingin ketinggalan pesta. Mereka kembali bergabung setelah Forrest Gump (1994) dan membuat The Polar Express.

The Polar Express.Cerita karangan Chris Van Allsburg ini telah menjadi teman pengantar tidur untuk anak-anak, terutama saat Natal menjelang. Kisahnya dimulai dari seorang anak laki-laki yang tidak bisa tidur di malam Natal, menanti sebuah keajaiban. Ia sesungguhnya tidak pernah percaya kehadiran Santa Claus. Itu sebabnya ia ingin melihat apa yang terjadi di malam Natal, saat seluruh anak tidur.
Keajaiban yang ditunggunya pun datang juga. Sebuah kereta tiba-tiba berhenti di depan rumahnya lima menit sebelum tengah malam. Anak laki-laki itu berlari keluar hanya dengan mengenakan piyama, baju hangat dan sandal. Ia bertemu kondektur kereta api yang tampaknya memang sengaja menjemputnya untuk membawanya ke Kutub Utara, tempat Santa berdiam. Awalnya, anak laki-laki itu ragu-ragu. Namun, begitu kereta api yang disebut Polar Express itu jalan, anak laki-laki itu naik juga. Herannya, tanpa membeli, tiket kereta ternyata sudah ada di kantungnya.
Di dalam gerbong, ternyata ada sejumlah anak yang seperti dirinya, cuma mengenakan baju tidur. Salah satu dari mereka adalah anak perempuan, memiliki hati yang baik dan selalu menolong orang lain. Namun, semua itu tidak membuat anak laki-laki itu diam. Ia masih punya segudang pertanyaan yang didasari atas ketidakpercayaannya terhadap Santa.
Hingga satu kali, tiket anak perempuan itu hilang gara-gara sang anak laki-laki. Karena tidak memiliki tiket, anak perempuan ini pun mesti meninggalkan gerbong kereta. Anak laki-laki itu merasa bertanggung jawab dan berusaha menemukan kembali tiket tersebut. Ia berhasil. Namun, anak perempuan itu keburu dibawa pergi.
Saat mengejar kondektur dan anak perempuan, anak laki-laki itu mengalami petualangan yang membuatnya kian percaya akan keajaiban Santa. Keyakinan ini kian tebal tatkala mereka tiba di Kutub Utara dan bertemu langsung dengan Santa Claus.

Grafis Komputer
Sebagai sebuah buku, The Polar Express memang memancing imajinasi yang tak terbatas bagi pembaca atau pendengarnya. Dengan kalimat-kalimatnya, Chris Van Allsburg menuturkan imajinasinya tentang pemandangan-pemandangan yang penuh keajaiban dan petualangan yang hebat.
Mewujudkan imajinasi semacam itu ke layar lebar tentu bukan perkara mudah. Pasalnya, setiap orang punya khayalannya sendiri-sendiri. Jika tak sesuai, film ini malah akan merusak imajinasi tersebut. Sebagai sutradara yang pernah meraih Oscar lewat film Forest Gump, Zemeckis tentu tak ingin melakukan kesalahan itu. Pilihannya untuk membuat film animasi grafis komputer lebih membebaskannya bereksplorasi dengan imajinasi.
Dengan teknologi tingkat tinggi, The Polar Express memiliki gambar-gambar tiga dimensi yang mendekati kesempurnaan. Tidak seperti film animasi biasa, film ini memiliki sudut pandang 360 derajat. Ekspresi wajah dan gerakan para tokohnya seperti nyata karena memang gambar-gambar itu diambil sesuai dengan ekspresi dan gerakan para aktor yang mengisi suaranya.
Satu adegan yang sangat indah adalah saat beberapa pelayan menyajikan secangkir coklat panas kepada para penumpang muda dalam perjalanan ke Kutub Utara. Mereka menari, melompat, bernyanyi, sambil menyajikan cangkir-cangkir yang penuh coklat hangat. Untuk menciptakan adegan ini, sekelompok penari dilatih oleh koreografer Broadway unggulan Tony Award, John Carrafa sebelum direkam kamera. Percaya atau tidak, tidak setetes coklat hangat pun yang tumpah.
Jika film animasi lainnya memajang nama-nama aktor beken sebagai pengisi suara, The Polar Express bukanlah film animasi yang mengandalkan kebintangan pengisi suaranya. Memang ada nama Tom Hanks di sana. Tapi peran Hanks boleh dibilang mirip dalang. Ia harus memerankan lima tokoh utama sekaligus, yaitu anak laki-laki, ayah anak laki-laki, pria misterius, kondektur, dan Santa Claus. Hanks memang mesti kerja keras karena tak jarang tokoh-tokoh ini saling bertemu dalam satu adegan. Toh, dengan tingkatan akting yang dimilikinya, peraih dua Oscar ini mampu menunaikan tugasnya dengan baik.
Seperti film-film untuk anak-anak lainnya, The Polar Express pun memberikan pesan moral bahwa persahabatan adalah lebih penting dari hadiah apa pun di dunia ini. Lewat ceritanya ini, Allsburg juga menggugat orang-orang yang sudah tidak memiliki semangat Natal lagi, terutama untuk orang-orang yang telah beranjak dewasa.
Di tengah sulitnya mencari film bagus untuk anak-anak Anda, The Polar Express bisa menjadi pilihan yang menyenangkan. (PT.THE FAST)